JAKARTA, seriale-turcesti.biz – Industri otomotif Indonesia kini tengah memasuki era baru di mana kendaraan listrik (EV) menjadi pemain utama. Pabrikan otomatis terbesar asal Tiongkok, BYD, telah menegaskan ambisinya lewat pembangunan pabrik senilai satu miliar dolar AS di Subang, Jawa Barat, yang ditargetkan selesai pada akhir 2025. Fasilitas tersebut diperkirakan mampu memproduksi hingga 150.000 unit EV per tahun dan memungkinkan ekspor ke Indonesia tanpa tarif impor.
Tak kalah ambisius, produsen Vietnam VinFast berencana memasang hingga 100.000 titik pengisian EV (charging station) di seluruh Indonesia—serta membuka pabrik perakitan dengan kapasitas produksi 50.000 unit per tahun mulai tahun depat. Langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah Indonesia yang tengah bertransformasi menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik global.
Perubahan ini didorong juga oleh insentif fiskal kuat yang mencakup pembebasan pajak impor, pengurangan PPN dari 11% menjadi hanya 1%, dan sejumlah kebijakan lain yang membuat harga EV lebih kompetitif. Hasilnya nyata terlihat: penjualan EV melonjak 151,5% tahun-ke-tahun pada 2024, mencapai sekitar 42.900 unit atau hampir 5% dari total pasar mobil nasional. Proyeksi tahun ini bahkan diperkirakan tumbuh ke kisaran 63.000–72.000 uni.
Transformasi otomotif ini menunjukkan bagaimana sinergi antara investasi asing, kebijakan pemerintah, dan pertumbuhan teknologi EV terus mengubah lanskap transportasi di Indonesia. Ke depan, semakin banyak model EV terjangkau dan tersebar, serta infrastruktur pengisian yang makin meluas, memungkinkan masyarakat untuk beralih ke kendaraan yang bersih, efisien, dan lebih ramah lingkungan.