Menjelang HUT RI, Bulog Jaga Stabilitas Harga Beras dengan SPHP

JAKARTA, seriale-turcesti.biz – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, Perum Bulog memperkuat komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh Indonesia melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memastikan masyarakat dapat mengakses beras berkualitas dengan harga terjangkau, sekaligus mendukung petani agar tetap mendapatkan keuntungan yang wajar.

Upaya Masif Bulog melalui SPHP

Sejak awal Agustus 2025, Bulog telah menggelontorkan beras SPHP secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa program ini telah menunjukkan hasil positif. “Harga beras mulai terkendali, pasokan aman, dan kepanikan masyarakat mereda,” ujarnya dalam keterangan resmi pada 15 Agustus 2025. Dengan stok nasional yang kuat, Bulog optimistis tren positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun.

Program SPHP menyasar distribusi beras melalui berbagai saluran resmi, seperti pengecer di pasar rakyat, Kios Pangan binaan pemerintah, koperasi desa, hingga Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar bersama pemerintah daerah dan Satgas Pangan Polri. Untuk memastikan ketepatan sasaran, Bulog menerapkan aturan ketat, seperti pembatasan pembelian maksimal 10 kg per konsumen (kecuali untuk wilayah tertentu seperti Maluku dan Papua yang menggunakan kemasan 50 kg) dan larangan menjual kembali beras SPHP.

Harga Beras SPHP dan Pengawasan Ketat

Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 5 Tahun 2024, harga penjualan beras SPHP dari gudang Bulog ke mitra penyalur ditetapkan sebagai berikut:

  • Rp11.000/kg untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.

  • Rp11.300/kg untuk wilayah Sumatera (kecuali Lampung dan Sumatera Selatan), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan.

  • Rp11.600/kg untuk wilayah Maluku dan Papua.

Konsumen dapat membeli beras SPHP sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yaitu Rp12.500/kg untuk Jawa dan beberapa wilayah lain, Rp13.100/kg untuk Sumatera (kecuali Lampung dan Sumsel), NTT, dan Kalimantan, serta Rp13.500/kg untuk Maluku dan Papua. Untuk mencegah penyimpangan, Bulog bekerja sama dengan Satgas Pangan Polri untuk mengawasi distribusi dan menindak pelaku yang menjual di atas HET.

Dukungan dari Panen dan Bantuan Pangan

Tren penurunan harga beras juga didukung oleh musim panen di berbagai sentra produksi padi, yang meningkatkan pasokan gabah kering panen (GKP). Data Bapanas per 1–14 Agustus 2025 menunjukkan penurunan harga GKP di beberapa wilayah, seperti:

  • Aceh: dari Rp7.750 menjadi Rp6.900/kg.

  • Jambi: dari Rp6.867 menjadi Rp6.720/kg.

  • Sumatera Selatan: dari Rp6.666 menjadi Rp6.543/kg.

  • Jawa Tengah: dari Rp6.814 menjadi Rp6.809/kg.

  • Banten: dari Rp6.527 menjadi Rp6.500/kg.

Selain itu, penyaluran bantuan pangan beras alokasi Juni–Juli sebanyak 338 ribu ton juga berkontribusi pada stabilisasi harga. Hingga akhir 2025, Bulog menargetkan penyaluran 1,3 juta ton beras SPHP dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP), sebagaimana diatur dalam Surat Kepala Bapanas Nomor 173/TS.02.02/K/7/2025 tertanggal 8 Juli 2025.

Sinergi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan

Bulog tidak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan BUMN seperti PT Pos Indonesia dan PT Pupuk Indonesia menjadi kunci keberhasilan program ini. Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diluncurkan serentak di lebih dari 5.000 titik pada Juli 2025 menjadi salah satu wujud nyata sinergi ini. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa operasi pasar ini bertujuan untuk menekan harga beras yang sempat naik, terutama di daerah dengan harga di atas HET.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menambahkan bahwa mekanisme distribusi telah dirancang dengan cermat untuk memastikan beras SPHP sampai ke tangan masyarakat dengan harga yang sesuai. “Kami ingin masyarakat merasa tenang menyambut HUT RI dengan pasokan pangan yang stabil,” ujarnya.

Tantangan dan Komitmen ke Depan

Meskipun harga beras menunjukkan tren penurunan di 19 provinsi, data Bapanas per 15 Agustus 2025 menunjukkan harga beras medium di tingkat konsumen masih di atas HET, yaitu Rp14.303/kg secara nasional. Wilayah Zona III bahkan mencatat lonjakan hingga Rp16.371/kg. Hal ini menunjukkan tantangan distribusi di daerah-daerah terpencil, yang memerlukan pengawasan dan koordinasi yang lebih ketat.

Bulog berkomitmen untuk melanjutkan program SPHP hingga Desember 2025 dengan prinsip efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan stok beras nasional sebanyak 3,9 juta ton, di mana 1,3 juta ton dialokasikan untuk SPHP dan sisanya untuk bantuan pangan, Bulog optimistis dapat menjaga ketahanan pangan nasional sepanjang tahun.

Menyambut HUT RI dengan Optimisme

Keberhasilan program SPHP tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga menciptakan rasa tenang di kalangan masyarakat menjelang perayaan kemerdekaan. Dengan harga beras yang lebih terkendali dan pasokan yang aman, masyarakat dapat merayakan HUT RI ke-80 dengan semangat kebersamaan dan kedaulatan pangan. Bulog, bersama pemangku kepentingan lainnya, terus berupaya memastikan bahwa setiap warga Indonesia memiliki akses ke pangan yang terjangkau dan berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *