Puan Maharani Apresiasi Dedikasi Bidan Pasaman, Soroti Ketimpangan Infrastruktur

JAKARTA, seriale-turcesti.biz – Aksi heroik Dona Lubis, seorang bidan dari Puskesmas Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, yang menyeberangi sungai deras untuk mengantarkan obat kepada pasien TBC, menjadi sorotan nasional. Video viral yang memperlihatkan Dona (46) berenang melintasi Sungai Batang Pasaman tanpa jembatan penghubung menarik perhatian Ketua DPR RI, Puan Maharani. Dalam pernyataannya, Puan memuji dedikasi Dona, tetapi juga menyinggung masalah ketimpangan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil.

Aksi Heroik Bidan Dona Lubis

Pada Jumat, 1 Agustus 2025, Dona Lubis nekat menyeberangi Sungai Batang Pasaman yang berarus deras untuk menjangkau pasien di Kejorongan Sinuangon, Nagari Cubadak Barat. Jembatan kayu sepanjang 15 meter yang menjadi satu-satunya akses ke wilayah tersebut telah putus, memaksa Dona untuk berenang sejauh 18 meter sambil membawa tas medis. Setelah mencapai tepi sungai, ia melanjutkan perjalanan sejauh 27 km dengan ojek melalui medan terjal untuk memastikan pasiennya menerima obat tepat waktu. Aksi ini, yang terekam dalam video amatir dan menjadi viral di media sosial, menjadi simbol pengabdian tenaga medis di tengah keterbatasan infrastruktur.

Tanggapan Ketua DPR Puan Maharani

Puan Maharani, dalam keterangannya pada Rabu, 6 Agustus 2025, menyampaikan kekagumannya terhadap pengabdian Dona. Namun, ia menegaskan bahwa aksi heroik seperti ini seharusnya tidak menjadi hal biasa dalam sistem pelayanan publik yang ideal. “Pengabdian seperti yang dilakukan Ibu Dona patut dihormati, tetapi kita harus jujur bahwa negara tidak boleh membiarkan para tenaga medis menggantikan tanggung jawab infrastruktur dasar yang belum hadir,” ujar Puan. Menurutnya, peristiwa ini mencerminkan kurangnya pemerataan pembangunan, terutama di daerah rawan dan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Puan menilai bahwa putusnya jembatan di Pasaman bukan hanya masalah logistik, tetapi juga ancaman terhadap keselamatan warga. “Ketika satu jembatan rusak menyebabkan terputusnya akses ke fasilitas kesehatan, maka yang terganggu bukan hanya alur logistik, melainkan potensi hilangnya nyawa manusia,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar tentang satu bidan atau satu pasien, melainkan tentang sistem dan keadilan pembangunan yang harus menjangkau wilayah paling membutuhkan.

Keadilan Pembangunan: Tantangan Infrastruktur di Daerah 3T

Peristiwa di Pasaman menjadi cerminan tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, khususnya di daerah terpencil. Jembatan Batang Pasaman yang putus telah mengisolasi dua kejorongan dengan total 150 kepala keluarga, memengaruhi akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi. Menurut warga setempat, jembatan tersebut adalah satu-satunya jalur penghubung, dan kerusakannya memaksa warga, termasuk anak sekolah, untuk mengambil risiko menyeberangi sungai. Kondisi ini memperlihatkan betapa infrastruktur dasar, seperti jembatan, memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Puan, yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menyoroti bahwa banyak titik rawan di Indonesia masih kekurangan konektivitas dan layanan kesehatan yang memadai. Ia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan anggaran pembangunan infrastruktur penghubung ke fasilitas kesehatan di daerah 3T. “Kita harus pastikan bahwa program-program infrastruktur dan kesehatan benar-benar menyentuh wilayah yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Langkah Konkret dan Respon Pemerintah Daerah

Menanggapi viralnya aksi Dona, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, berkoordinasi dengan Bupati Pasaman, Welly Suhery, untuk segera menyusun proposal pembangunan jembatan baru. Sementara itu, Bupati Welly telah menjanjikan pembangunan jembatan darurat untuk memulihkan aktivitas warga. “Sudah kita turunkan tim ke lokasi kejadian. Saat ini tengah dihitung berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan,” ujar Welly. Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, Dona menerima piagam penghargaan dan sebuah motor plat merah dari pemerintah daerah.

Namun, Dona menegaskan bahwa aksinya bukan untuk mencari perhatian, melainkan panggilan tugas. “Saya tidak pernah menyangka video itu akan viral. Itu inisiatif masyarakat, tapi memang saya sering bolak-balik ke pedalaman untuk mengobati pasien,” ungkapnya. Dedikasinya ini menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi tenaga medis di daerah terpencil.

Implikasi dan Harapan ke Depan

Kisah Dona Lubis tidak hanya menggambarkan heroisme individu, tetapi juga mengungkap kelemahan sistemik dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Puan Maharani menekankan perlunya langkah konkret, seperti penguatan anggaran untuk infrastruktur dasar dan peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia juga mengajak semua pihak untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terfokus di perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terisolasi.

Warga Pasaman berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang rusak untuk memudahkan akses layanan kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Kisah ini juga menjadi panggilan bagi pemerintah untuk lebih serius dalam mewujudkan keadilan pembangunan, memastikan bahwa tidak ada lagi tenaga medis atau warga yang harus mempertaruhkan nyawa demi akses dasar.

Aksi heroik bidan Dona Lubis telah membuka mata publik terhadap realitas ketimpangan infrastruktur di Indonesia. Apresiasi dari Ketua DPR Puan Maharani menegaskan bahwa pengabdian seperti ini harus menjadi pengingat bagi negara untuk mempercepat pemerataan pembangunan. Dengan langkah konkret seperti pembangunan jembatan dan penguatan anggaran untuk daerah 3T, diharapkan tidak ada lagi cerita tentang tenaga medis yang harus menyeberangi sungai deras demi menyelamatkan nyawa. Kisah ini adalah seruan untuk keadilan, konektivitas, dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *